KOMUNIKASI DALAM SENI PERTUNJUKAN TEATER

Komunikasi dalam Teater

Teater merupakan kisah kehidupan manusia yang disusun untuk
ditampilkan sebagai pertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan dan
ditonton oleh publik (penonton).1
Baru dapat disebut seni pertunujukan teater apabila sudah
dipentaskan,dan teater selalu bersifat “Actor oriented” (berorientasi pada
pelaku pemain).
Penulis
Kehidupan Naskah Teater Penonton
Sutradara
Pemain
Pekerja seni
Tanda-tanda kehidupan, simbol-simbol norma, tanda-tanda
kebahasaan, simbol-simbol kejahatan, dsb dirangkai oleh penulis naskah dan
dibawakan oleh actor di atas panggung untuk disampaikan kepada penonton.
Dialog dan lakuan actor di atas panggung tanpa ada motivasi yang diresepsi
dari tanda dan simbol kehidupan tidak akan bermakna. Lebih tidak bermakna
lagi jika lakuan actor tidak dapat diinterpretasi atau diterima penonton sebagai
respon dalam sebuah proses komunikasi.
Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak telepas dari aspek tanda
dan simbol kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang merupakan bahan
bakar penciptaan bagi penulis maupun pekerja seni teater lainnya akan
membangun karya seni pertunjukan penuh dengan tanda dan simbol-simbol
kehidupan. Tanda dan simbol yang sifatnya universal tersebut oleh banyak
ilmuwan diyakini sebagai dasar dari semua komunikasi. Komunikasi adalah
suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain
melalui penggunaan simbil-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka
dan lain-lain.2
John Powers, dalam usahanya untuk mengembangkan berbagai
macam cabang disiplin komunikasi, menegaskan bahwa yang paling penting

dalam komunikasi adalah pesan.3 Menurut Powers, pesan memiliki tiga unsur
yaitu: tanda dan simbol, bahasa, dan wacana.
Teater sebagai sebuah karya seni pertunjukan akan mengangkat
pesan tentang kehidupan, tentang norma, tentang kebaikan, keburukan,
kejahatan, dan berbagai watak karakter manusia untuk ditampilkan di atas
panggung.
Charles Morris, pakar semiotik dalam berbagai tulisannya
menunjukkan bahwa seluruh tindakan manusia melibatkan tanda dan makna
dalam berbagai macam cara yang menarik perhatian. Setiap ada tindakan
orang akan menjadi sadar terhadap tanda, menginterpretasikan tanda dan
kemudian memutuskan bagaimana cara meresponnya.4
Simbol-simbol dari penulis naskah yang dibawakan oleh actor melalui
interpreatsi sutradara berfungsi untuk mengkomunikasikan konsep, gagasan
umum, pola, atau bentuk. Oleh Susane Langer konsep disebut makna yang
dipegang bersama antara para komunikator, tetapi masing-masing
komunikator juga akan memiliki kesan atau makna pribadi yang mengisi
gambaran umum tersebut. Kesan pribadi merupakan konsepsi orang
tersebut.5
Makna terdiri atas konsepsi pribadi individu dan konsep umum yang
dipegang bersama-sama dengan orang-orang lain. Misalnya, karakter tokoh
Jumena dalam naskah Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noor yang menjadi
sumber inspirasi penulis dalam penciptaan teater penuh dengan simbolsimbol
makna pribadi maupun makna umum. Makna umum dalam naskah
tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membacanya, mempelajarinya
atau memainkannya.
Makna merupakan kesan yang diakui secara umum. Jumena adalah
tokoh yang memiliki watak dasar pendirian yang kuat, pendirian yang kuat
inilah yang menjadikan ketidakyakinan Jumena terhadap segala sesuatu
meski disisi lain Jumena adalah sosok yang religius. Makna pribadi adalah
makna yang dimiliki Arifin C Noor terhadap Jumena dan orang-orang lain
yang telah mempelajarinya termasu penulis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teater sebagai sebuah
seni pertunjukan memiliki unsur penting selain naskah, sutradara, dan actor
berupa aspek tanda dan simbol sebagai pesan yang ingin disampaikan dalam
kerangka proses komunikasi.
Elemen Produksi Teater Sebagai Komunikasi Bersistem
Selain pemain (actor) ada bagian penting dalam sebuah pertunjukan
teater yaitu staf produksi. Staf Produksi teater pada umumnya terdiri dari

manager setingkat direktur perusahaan sampai pada petugas lapangan.6 Staf
produksi teater dijelaskan seperti di bawah ini berikut termasuk tugas dan
fungsinya.
a. Produser
Memiliki tugas mengurus produksi secara keseluruhan dan menetapkan
personal (karyawan, petugas), anggaran biaya, program kerja, fasilitas,
dan sebagainya.
b. Direktor (sutradara)
Sebagai koordinator pelaksanaan tugas-tugas penggarapan teater drama,
seperti menyiapkan aktor, mengkoordinasi pekerja teater dsb.
c. Stage Manager
Bertugas memimpin pertunjukan atau pementasan dalam artian pemimpin
langsung dilapangan pada saat pertunjukan, membantu sutradara dalam
mengkoordinasi dan persiapan pemain dan pekerja teater.
d. Designer
Menyiapkan aspek-aspek visual: stage/ setting, property/ dekorasi,
lighting/ tata lampu, costume/ make-up, sound, dan lain-lain.
e. Pekerja Teater/ Crew
Para pekerja yang bertanggung jawab dibagian pentas (stage crew),
dibagian perlengkapan pentas/ dekorasi (properti crew), tata lampu (light
crew), tata busana dan tata rias (costume crew),serta tata suara/musik
(sound crew).
Staf produksi di atas dalam melaksanakan tugasnya merupakan satu
kesatuan. Salah satu staf tidak berfungsi baik maka staf yang lain akan
mengalami hambatan dalam melaksanakan pementasan. Pekerjaan
pertunjukan teater akan timpang dan tidak sempurna pelaksanaannya
meskipun kemungkinan tugas dan fungsi tersebut bisa digantikan atau
diwakili oleh staf yang lain.
Sebagai satu kesatuan, staf produksi adalah sebuah sistem. Teori
sistem oleh Fagen dikatagorikan bagian dari teori komunikasi. Vardiansyah
yang mengutip pendapat Reusch menjelaskan bahwa komunikasi merupakan
suatu proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya
dalam kehidupan.7
Setiap sistem terdiri atas empat hal.8 Yang pertama adalah obyek:
bagian-bagian, unsur-unsur, atau variabel-variabel di dalam sistem. Obyek
bersifat fisik atau abstrak atau kedua-duanya, bergantung pada sifat sistem.
Kedua, sistem terdiri atas atribut-atribut: kualitas atau sifat-sifat sistem dan
obyek-obyeknya. Ketiga, sistem memiliki hubungan-hubungan internal antara
obyek-obyeknya. Keempat, sistem ada dalam lingkungan.

Dengan demikian, sistem merupakan seperangkat hal/ benda yang
saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu lingkungan dan membentuk
pola lebih besar yang berbeda dari setiap bagian-bagiannya.9
Produser, sutradara, stage manager, designer, dan pekerja teater
adalah bagian atau unsur-unsur dalam sebuah sistem. Sistem yang dimaksud
adalah sistem produksi seni pertunjukan teater. Mereka saling
memperngaruhi satu dengan yang lain dalam satu lingkungan yaitu produksi
seni dan membentuk pola-pola hubungan kerja internal yang berbeda satu
dengan yang lain dan membangun pola tersebut menjadi pola-pola yang lebih
besar.
Sebuah sistem akan memiliki karakteristik tertentu. Kualitas sistem
dalam seni pertunjukan teater adalah tidak saling mengucilkan dan atau
mengecilkan tugas dan fungsi satu dengan yang lain, tetapi masing-masing
berhubungan dengan cara tertentu dengan kualitas masing-masing.
Seorang produser pada dasarnya tidak mudah untuk memecat atau
memberhentikan sutradara, actor atau pekerja seni lainnya. Mereka terikat
oleh satu aturan sistem yang sejak awal telah disepakati. Kesepakatan
sebagai hubungan yang harmonis dalam bentuk kerja dan dituangkan dalam
bentuk kontrak kerja.
Keutuhan dan saling tergantung dalam sistem merupakan suatu
keutuhan yang unik.10 Melibatkan pola hubungan yang berbeda dari setiap
sistem lainnya. Sesuatu yang utuh jelas lebih utama daripada jumlah bagianbagiannya.
Sistem adalah produk kekuatan-kekuatan atau interaksi-interaksi
antara bagian-bagiannya. Sekelompok orang yang berdiri dalam deretan
pada terminal bus bukan sistem, tetapi sekelompok orang yang duduk di
sekitar meja, yang melakukan percakapan merupakan sebuah sistem. Tiap
bagian dari sistem dibatasi oleh ketergantungannya pada bagian-bagian lain
dan pola salingtergantung tersebut mengorganisir sistem.11
Saling ketergantungan antara variabel-variabel suatu sistem dapat
diungkapkan sebagai serangkaian asosiasi, atau korelasi. Korelasi, dua
variabel atau lebih berubah secara bersama-sama. Dalam sebuah proses
produksi misalnya, kecemasan sutradara dengan kemarahan produser
mungkin berkorelasi. Korelasi bisa yang kuat atau lemah, bergantung
bagaimana jalinan ketergantungan masing-masing dalam sebuah sistem.
Dalam suatu sistem produksi seni yang kompleks, banyak variabel saling
berhubungan satu dengan yang lain dalam suatu jaringan pengaruh yang
berubah-ubah kekuatannya. Misalnya actor yang bersemangat, sutradara
yang frustrasi, atau pekerja teater yang menarik diri, dan penyesalan stake
holder mungkin terikat bersama-sama dalam suatu kelompok teater.

Sistem cenderung saling melekat satu dengan yang lain sebagai satu
keutuhan. Unsur sistem merupakan bagian dari sistem dan sistem
merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.12 Ada semacam hirarki
dalam rangkain sistem, subsistem, dan sub-sub sistem.
Seorang sutradara akan menjadi pemimpin dan acuan bagi actor dan
pekerja seni teater lainnya. Apapun yang menjadi instruksi sutradara harus
dilakukan oleh actor dan pekerja seni lainnya. Hal ini menyangkut tugas dan
fungsi sutradara dalam rangkaian sistem bahwa paling tidak sutradara sudah
memahami lebih dahulu naskah atau ceritanya. Namun demikian diatas
sutradara masih ada unsur atau variabel yang harus dipatuhi oleh sutradara
yaitu produser ataupun stake holder. Penyandang dana sebagai stake holder
punya kekuatan dalam hal kekuangan, namun akan tidak berdaya dan tidak
mengahasilkan apa-apa jika tidak memilki sumber daya manusia yang disebut
sutradara, actor maupun pekerja seni lainnya.
Dengan demikian sistem merupakan serangkaian kompleksitas yang
semakin bertambah. Sistem lebih besar dimana salah satu sistemnya
merupakan bagian darinya disebut suprasistem, dan sistem lebih kecil yang
terkandung dalam suatu sistem disebut subsistem. Tim produksi adalah
suprasistem dari produser, sutradara,stage manger, designer, dan crew
sebagai subsistem. Sutradara adalah suprasistem dari actor, pemusik, penata
lampu, penata panggung sebagai subsistem.
Elemen Teater Sebagai Rangkaian Komunikasi
Drama is designed to be acted on the stage. Unsur-unsur pembangun
teater adalah (1) lakuan, (2) panggung, (3) busana, (4) rias, (5) cahaya, dan
(6) musik. Keenam unsur tersebut tidak lepas dari peran sutradara sebagai seniman
penafsir (interpretative artist). Disamping itu, ada elemen-elemen lain yang tidak
kalah penting (1) acting, (2) staging, dan (3) audience.13
Tiga elemen tersebut merupakan unsur penting teater. Acting selalu berkaitan
dengan peran dan pemeranan, yang sekaligus berkaitan dengan motivasi.
Selain itu, berhubungan pula dengan panggung (staging) sebagai media lakuan.
Panggung merupakan penggabungan semua unsur yang terkait dengan kebutuhan
teater, panggung bukan hanya daerah permainan atau lokasi saja namun panggung
dihadirkan secara lengkap dengan alat kelengkapan/ property diperlukan. Hal ini
dimaksudkan untuk mencapai dampak estetis dikenal dengan aspek
komposisi.
Audience baik penonton biasa, penikmat, maupun pengkritisi merupakan
unsur penting teater, yang fungsinya sebagai pendukung pementasan.
Kehadiran mereka sangat besar artinya meskin hanya sebagai penonton
yang tidak berbekal apa-apa atau penonton biasa. Penonton yang heterogen
perlu mendapat perhatian sutradara, pemain dan yang lainnya paling tidak

memperhitungkan penonton dari aspek dan dimensi budayanya agar kelancaran
komunikasi pementasan bisa berhasil.
Acting seorang actor atau bagaimana pemeranan yang diperankannya
memerlukan motivasi yang masing-masing actor akan ada korelasinya.
Ketergantungan seorang actor dengan actor lainnya diikat bersama-sama
dengan naskah, dialog ataupun alur cerita.
Dalam sebuah pementasan, jika seorang actor lepas dari cerita dalam
naskah atau ada dialog-dialognya keluar dari naskah maka akan terjadi
kegagalan komunikasi. Ketergantungan antar actor sebagai sebuah sistem
menjadi kacau dan tidak harmonis. Ketidakharmonisan ini akan berakibat pula
tidak tersampaikannya pesan sebagai tanda dan simbol-simbol kehidupan
dalam sebuah komunikasi seni pertunjukan teater.
Dialog Memuat Pesan
Dialog yang dibawakan actor merupakan salah satu aspek esensial
yang ada dalam seni pertunjukan teater. Bukan berarti bahwa kekhasan
teater hanya terletak pada dialog, melainkan banyak hal yang menjadikan
dialog menjadi ciri khas teater, apalagi jika dikembalikan pada aspek-aspek
kehidupan maka terjadinya komunikasi antara actor dan penonton menjadi
signifikan.14
Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi antar manusia begitu penting.
Mutlak manusia sangat butuh komunikasi dengan orang lain untuk
menyampaikan gagasan, pikiran, perasaan. Dengan komunikasi kita dapat
mengetahui watak seseorang secara jelas. Komunikasi seperti ini membuka
kemungkinan seseorang memahami orang lain. Dalam komunikasi akan
terjadi proses pikiran seseorang mempengaruhi pikiran orang lainnya.15
Hanya melalui bahasa yang komunikatif yang diwujudkan dalam
bentuk dialog, kita dapat memahami siapa dan bagaimana lawan bicara kita.
Lebih-lebih bila komunikasi dalam bentuk dialog tersebut disertai dengan
lakuan akan lebih memperjelas maknanya.
Pesan harus disampaikan secara jelas agar tidak menimbulkan
kesalahpahaman. Dalam situasi komunikasi tidak harus antara dua orang,
yang satu sebagai pembicara aktif dan yang lain sebagai pendengar setia,
tetapi bisa juga komunikasi tersebut melibatkan banyak orang. Yang
dipentingkan adalah bagaimana mengatur arus lalu lintas komunikasi agar
terjadi pergantian atau giliran bicara yang wajar. Kita harus memberi peluang
kepada lawan bicara agar memiliki kesempatan mengungkapkan isi hatinya.
Kesempatan yang kita berikan tidak harus berbentuk balasan perkataan atau
menjawab dengan kalimat yang panjang, tetapi dapat dilakukan dengan
berbagai cara, paling tidak memberi respon. Respon berdasarkan stimulus

tersebut tidak harus berwujud kalimat, tetapi bisa juga diwujudkan dalam
bentuk gerak atau perilaku.
Yang lebih penting lagi adalah bagaimana seorang actor memberi
muatan makna dialog agar dapat menumbuhkan pengertian bagi lawan bicara
maupun penonton sebagai penerima pesan. Ketepatan actor memberi
muatan pada kalimat-kalimat yang didialogkannya akan menciptakan
komunikasi yang sempurna.
Dialog-dialog yang diucapkan actor atau pemain harus selaras dengan
penggambaran lakuan di atas panggung. Perlu dilakukan proses analisis
dialog oleh actor utamanya sebelum pemanggungan di mulai agar
memperoleh gambaran yang nyata tentang apa yang sebenarnya difokuskan
dalam dialog tersebut.
Analisis dialog dapat dilakukan secara sederhana dalam bentuk yang
mirip dengan memenggal-menggal kalimat menjadi bagian-bagian yang
sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan. Tekanan pada beberapa
bagian kalimat perlu juga diberikan agar lebih mengekspresikan muatan
emosinya.16
Jika actor tidak mampu menerjemahkan dialog-dialog dan
memperkuatnya dengan lakuan-lakuan di atas panggung maka yang terjadi
adalah kesalahpahaman atau tidak munculnya komunikasi antara actor
sebagai pembawa pesan dengan penonton sebagai penerima pesan. Sebuah
komunikasi baru akan terjadi jika ada komunikator pengirim, pesan, dan
target komunikan penerima.17
16

Published in: on January 6, 2009 at 3:24 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://teater1mei.wordpress.com/2009/01/06/komunikasi-dalam-seni-pertunjukan-teater/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: